Sabtu, 24 Februari 2018

Menjual Kenangan Orde Baru adalah Ide Gila

Akhir-akhir ini banyak sekali artikel atau gerakan atau apapun itu yang sangat membanggakan-banggakan atau rindu dengan rezim presiden kedua Indonesia,  yakni Soeharto atau setelah menunaikan ibadah Haji merubah namanya menjadi Haji Mohammad Soeharto. Ya, orde baru (orba) namanya. Sesuatu rezim yang menguasi negeri ini sampai 30 tahun lebih lamanya. Banyak cuitan-cuitan yang saya baca di media sosial dengan sangat amat membeda-bedakan dulu dengan sekarang. ( ya, memang setiap orang bebas mengutarakan pendapatnya masing-masing seburuk apapun itu).

Zaman dulu harga barang lebih murah, zaman dulu semua terasa aman, zaman dulu mencari kerja gampang, zaman dulu hutang negara kecil, zaman dulu aset negara aman, zaman dulu bla-bla-bla dan seterusnya. Di tambah mencuatnya salah satu partai politik (parpol) yang menjual nuansa orde baru sebagai jargonnya.

Mari kita runut lebih dalam,
- zaman dulu lebih murah. = jangan samakan harga barang saat ini dengan 20 atau 30 tahun yang lalu. Pastinya lebih murah zaman dulu, contoh harga barang tahun 90an pasti lebih mahal dibandingkan harga barang tahun  80an, harga barang 80an pasti lebih mahal dibandingkan tahun 70an dan seterusnya hingga kebelakang.

- Zaman dulu semua terasa aman. = pada
masa itu semua terpantau oleh pemerintah dengan amat sangat terkontrol,  maksud terkontrol disini adalah hal-hal pemberitaan yang memberikan kritik ke pemerintah akan langsung hilang di telan bumi dan tak ada rimbanya. kita ambil contoh Kementrian Penerangan (saat ini telah berubah menjadi Kementrian Informatika dan Komunikasi) di bawah Kementrian ini semua media baik itu media cetak dan elektronik sangat dipantau oleh kementerian ini. Hal-hal yang menurut mereka mengganggu kredibilitas atau mengkritik pemerintah pasti sudah di bredel dan ditutup kantor medianya. Tidak sebebas saat ini yang setiap warganya berhak mengeluarkan opini apapun.

- zaman dulu mencari kerja gampang = jangan bedakan masa itu dengan saat ini. Masa itu negara kita masih dalam proses pembangunan dan ditambah jumlah manusia pada masa itu masih saat sedikit di banding saat ini. Otomatis untuk masuk kedalam suatu perusahaan butuh menyerap tenaga besar dan tanpa melalui tes yang begitu rumit. Saat ini negara kita sedang berkembang, jumlah manusia nya terus bertambah, itu yang mengakibatkan untuk masuk kedalam suatu perusahaan pasti melewati seleksi yang cukup ketat. Karena saat ini kita berada dalam suasana globalisasi.

- zaman dulu hutang negara sedikit = Tomy Soeharto  pernah mengatakan hutang negara dulu kecil, sedangkan saat ini besar. Kecil bagi saat ini itu besar bagi era itu. Dan utang negara saat ini juga adalah jumlah total yang telah melewati beberapa presiden.

- zaman dulu aset negara aman = mungkin kita lupa. Bahwa Perusahaan tambang emas besar PT. FREEPORT dikelola dan diberikan saham besar ke Amerika Serikat pada era presiden Soeharto.

Perlu kita ketahui. Pada era itu sang presiden menduduki jabatan presiden dengan bantuan Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS). Majelis ini buatan presiden Soeharto sendiri, orang-orangnya pun pilihan presiden sendiri. Dan ingat, soeharto menjadi presiden hanya beberapa tahun setelah melengserkan paksa presiden Soekarno dan membunuh berjuta-juta orang yang pada waktu itu dianggap pengikut Soekarno.

Perlu diingat juga. Banyak pula tragedi-tragedi kemanusian yang meletus pada era sang presiden memimpin. Peristiwa Malari, peristiwa Tanjung Priuk, peristiwa petrus dan peristiwa lainnya yang di dalangi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) waktu itu.

Sekedar mengingatkan : Soeharto dengan kekuatan ABG (Abri, Birokrasi, Golkar) terus berusaha sekuat mungkin melanggengkan sang persiden terus-menerus menguasai negara ini.

Walapun ada tiga partai politik. PDI, PPP dan Golkar. Kita dipaksa harus memilih Golkar, para anggota DPR/MPR yang seharusnya dipilih oleh rakyat tapi nyatanya hanya dipilih oleh presiden sendiri. Dan DPR/MPR itu sendiri selalu ingin agar Soeharto menjadi presiden. Inilah titik awal tumbuhnya system suap di negara ini.

Menguasai Golkar, DPR/MPR, Birokrasi pemerintahan, Abri. Membuat budaya korupsi menjadi hal biasa pada era itu.

System korupsi ini terus mengakar dari atas sampai tingkat paling bawah seperti kecamatan dan kelurahan. Korupsi sudah dianggap hal biasa. Karena ya memang semua nya melakukan system yang diberi nama Korupsi Kolusi dan Nepotisme (KKN) ini.

Inilah salah satu warisan pemerintahan Soeharto yang sampai saat ini masih terus terasa akibatnya.

 Tidak adanya lembaga yang mengawasi seperti KPK dan BPK membuat korupsi merajalela.

Menurut salah satu majalah ternama dunia. Soeharto masuk kedalam daftar presiden diktator terkorup abad 20.

Dan akhir-akhir ini saya cukup mengelap keringat melihat ada pihak-pihak yang ingin mengulangi kejayaan orde baru. Ditambah Mandala Hutomo Putra atau yang lebih akrab disapa Tommy Soeharto mendirikan partai berkarya yang ingin mengulangi kesuksesan ayahnya.

Mungkin kita lupa akan lagu legendaris Iwan Fals yang berjudul Bento.

"Bisnisku menjagal, jagal apa saja yang penting aku senang aku menang, persetan orang susah karena aku. Yang penting asik, sekali lagi asik".

Memang ada beberapa hal bagus dari orde baru diantaranya, pemberantasan buta huruf, swasembada pangan dan system koperasi yang menyebar ke Indonesia. Tapi ide ingin kembali lagi dengan nuansa orde baru atau lebih baik zaman orde baru adalah salah satu ide yang paling konyol yang pernah diumumkan

Jumat, 23 Februari 2018

Lima Hari Di Backstage Artis








Bulan maret 2016 mungkin menjadi salah satu bulan musik bagi saya. Selain karna Hari Musik Nasional jatuh pada tanggal 9 maret setiap tahunnya. Dua kali pula di bulan ini saya sibuk dengan acara atau event musik. Salah satunya yang saya akan bahas di artikel kali ini.

Karawang Clothfest 2016. Yap, ini adalah event besar yang saya sendiri masuk ke dalam jajaran panitia walau pun bukan panitia inti di dalamnya. Tapi disini peran yang saya pegang cukup signifikan. Yakni mengurusi semua tentang makanan dan minuman guest star atau Bintang Utama setiap harinya.

Sebuah event yang mengambil konsep dari event besar  Jakarta Clothing (Jacklot). Bisnis Clothing yang dipadukan dengan bisnis musik. Acara ini bisa dibilang cukup terkonsep karna dipersiapkan jauh-jauh hari dan merekrut banyak pihak pelaku industri musik Karawang  di dalamnya. Seperti kalangan musisi Karawang, komunitas musik, komunitas fans club, penyedia jasa sound engineering, penyedia jasa stage dan tenda , media patner, pengelola tempat kegiatan, pelaku bisnis clothing, master of ceremony ( MC ) , sampai remaja yang dianggap hits pada kala itu. Hampir semua yang terlibat adalah orang Karawang itu sendiri. Selepas dari Bang Iruf dan Bang Arie Dote yang waktu itu mewakili Trinalar Organizer sebagai pihak utama penyelenggaraan acara ini.

Saya juga melihat sendiri kinerja masing-masing pihak  dalam mempersiapkan bidangnya masing-masing. Awalnya saya juga tidak kepikiran bisa ikut andil di acara ini, ketika suatu hari mendapat telepon dari salah satu pencetus acara ini sendiri.

"Can gimana kabar lo? Bisa ketemu"

Kira-kira begitu hal yang diucapkan Bang Arie Dote waktu pertama menelepon saya untuk pertama kali setelah sekian lamanya tidak bertemu. Langsung saya jawab "Baik. Bisa bang, mau kapan?".

Ketika pertama jumpa, sekedar menanyai kabar masing-masing dan di lanjut traktiran makan malam. Langsung dia bilang. "Ada satu posisi di event ini yang masing kosong, gue pengen lo yang ngisi".  Langsung saja saya mengiyakan tawarannya tanpa pikir panjang posisi apa yang ditawarkan. Dan beberapa hari sebelum acara dia baru bilang bahwa posisi itu adalah mengurusi kebutuhan  makanan dan minuman guest star di setiap harinya. Saya langsung berpikir.

"Anjrit, bakalan satu stand terus bareng guest star setiap hari, wah seru nih".

Event ini berjalan lima hari. 2 sampai 6 maret 2016. Hari pertama berjalan mulus dengan Killing Me Inside sebagai bintang yang membuat lapangan Techno Mart di penuhi para Street Team yang menunggu Joesaphat dan lain-lain. Selama semua guest star ini tampil saya sibuk menyiapkan makanan dan minuman yang waktu itu saya sediakan nasi padang hangat di meja khusus guest star. Usai turun  panggung, banyak sekali fans yang ingin meminta photo bersama sampai-sampai gerai stand sampai terbuka. Satu stand dengan para bintang independen ini adalah pertama bagi saya sendiri dan sangat mengesakan. Bersikap kalem dalam satu ruangan dengan guest star yang memiliki fans banyak membuat saya sendiri bingung harus ngapain.

Kenapa begitu ? Karena tidak semua musisi bisa terbuka mengobrol dengan panitia acara.

Dari semua personil Killing hanya sang vokalis Vira Razak dan sang gitaris Josaphat yang sempat ngobrol hal-hal kecil tentang Karawang, selebihnya hanya asik dengan smartphone masing-masing.

Hari kedua giliran Pee Wee Gaskins sebagai band yang memiliki pengikut cukup banyak.   Beda band beda cerita. Hampir semua personil dapat saya dekati dan sukses membuat obrolan-obrolan ringan dengan mereka. Yang paling asik adalah sang drummer, Aldy Kumis yang sempat berphoto ria dengan saya.

Festival ini juga menampilkan banyak sekali band-band independen Karawang. Tidak terhitung berapa band indie yang menunjukkan taji nya di acara ini karena terdapat dua stage di acara yang waktu tampilnya hampir bersamaan.

Hari ketiga khusus bagi para Metalhead Karawang, Taring unit asal Bandung yang menjadi guest star untuk hari itu. Warna hitam-hitam sudah keliat sejak sore hari. Bagi para pecinta Metal, kedatangan Gebeg dan kawan-kawan bisa  menjadi ajang silaturahmi sesama pecinta genre musik keras tersebut.

Hari ke empat berganti untuk giliran pemuja genre Ska dan sejenisnya. Kuartet Legendaris Ska asal Kota Kembang, Don Lego menjadi band yang paling ditunggu-tunggu untuk menghentak alunan indahnya tepat pada malam minggu yang cerah itu.

Tidak terasa empat hari telah berlalu. Sudah beberapa band besar saya urusi semua kebutuhannya, sudah berapa teman baru yang saya kenal dan bertukar kontak person, sudah berapa obrolan seru terjadi, sudah berapa teman lama yang bertemu tidak sengaja di acara ini. Suatu hal yang sulit untuk terlupakan. Dan hati terakhir pun tiba. Pagi hari saya sudah ditelepon oleh bang Arie Dote.

"Can dimana lo? The Sigit bentar lagi mau sampe, lo harus udah disini sebelum mereka datang. Siapin semua makan dan minum Rekti sama kawan-kawan semua" ujar Bang Arie Dote di telepon. Langsung saja saya bergegas menuju lokasi acara. Dan benar, saya datang anak-anak The Sigit juga sudah datang. Makan minum langsung saya siapkan, tidak lupa beberapa pertanyaan untuk mereka ketika ada kesempatan untuk mengobrol.

Mungkin ini kebiasaan jurnalis yang masih kebawa ke diri saya. Menyiapkan beberapa pertanyaan kepada seorang tokoh atau publik figur agar obrolan terus berjalan menarik dan tidak keliatan bodoh tentunya.

Minggu sore para The Insurgent Army sebutan penggemar The Sigit sudah mulai ilir-mudik arena acara. Band idola nya untuk kali pertama tampil di Kota Karawang. Hari minggu bisa dibilang sebagai salah satu hari teramai setelah hari Rabu dan Kamis. Penyebab utamanya karena adanya The Sigit ini.

Namum sayang sejak sore awan menunjukkan  niat kurang bersahabatnya. Awan hitam nan gelap terus memutar-mutar langit-langit. Sialnya hujan mulai turun setelah waktu menunjukkan jadwal The Sigit tampil. Yang semula hanya hujan ringan, meningkat lebat dan meningkat lagi menjadi hujan angin. Pagar pembatas belakang stage pun sampai roboh. Dan parahnya lampu se-arena acara padam serentak. Hal ini pun disesalkan banyak pihak. Namun apa daya tidak ada yang bisa melawan kehendak alam. The Sigit pun batal tampil dan rumornya pihak penyelenggara atau panitia inti hanya mengganti uang tranportasi.

Kurang lebih nya acara Karawang Clothing 2016. Bagi saya pribadi amat sangat memberikan banyak pengalaman, ilmu, pertemanan dan tentunya nafkah untuk membeli beras di kontrakan. Semoga Karawang kedepannya bisa membuat acara serupa yang lebih gokil nan edan lainnya.










Selasa, 20 Februari 2018

Film Dengan Dialog Terbaik Sepanjang Masa

                  Salah satu logo film 12 Angry Men

Mendiang Henry Fonda harus berbangga hati di alam sana, karena salah satu mahakarya terbesarnya yang  di buat pada  tahun 1957 yakni 12 Angry Men terpilih masuk ke dalam museum film Amerika Serikat dan wajib dilestarikan menjadi budaya populer terbaik.

"Jangan liat dari jadulnya nih film, tapi liat dari isinya"

Satu setengah jam cukup untuk ukuran sebuah film pada era itu, bisa dibilang ini adalah film yang melebihi pada zamannya. Film ini hanya bersetting disebuah beberapa ruangan dan fokus pada dialog musyawarah para antar tokoh. Namun jangan ditanya gimana tegangnya film ini.

Bercerita tentang seorang anak yang didakwa akibat membunuh ayahnya dan 12 juri pengadilan dari berbagai profesi melakukan voting untuk mendapatkan suara, bersalah atau tidak bersalah atas perbuatan sang anak.

Dari 12 juri, 11 mengatakan bersalah namun 1 juri mengatakan tidak. Adu argumen mau tidak mau terjadi, saling mengeluarkan pendapat, ide dan ego masing-masing.

Film ini hanya menjual tik-tok antar aktor dan dialog-dialog cerdas. Namun tegangnya seperti menaiki wahana Dufan paling ekstrem.

 Sekedar catatan : film ini juga masuk 10 besar film terbaik situs IMDb. Situs film nomor wahid di dunia


Festival Musik Paling Memuaskan

Untuk pertama kalinya saya hadir ke sebuah festival yang di dalamnya benar-benar memuaskan dahaga para pecinta musik tanah air. SYNCHRONIZE FEST. ya, festival yang baru dua tahun berdiri ini cukup membuat mata para penggila musik meliriknya. Menggabungkan semua unsur menjadi satu. Lintas genre dan lintas generasi. Bayangkan  saja sore hari mendengarkan Dangdut, Folk, Jazz , Blues malam harinya langsung digempur Pop Punk, Metal, Reggae, SKA, EDM dan lain-lain.

 "Gue mau balikin duit tiket kalo acara ini ga keren" ujar salah satu orang dibelakang saya ketika antri membeli tiket.

 Waktu itu saya hadir hari sabtu, hari kedua acara. Daftar pengisi acara yang saya ingat adalah Burgerkill, Pee Wee Gaskins, Fourtweenty, Tohpati Bertiga, Hallo Dangdut, Deadsquad, Shaggy Dog, NTRL, Elepand Kind, Tony Q Rastafara, Steven Jeam, Indishe Party, Hellcrust, Feast, Bangkutaman, Barefood, Bin Idris, Float, Rollfast, Adhitia Sofyan, Jason Ranti, Iksan Skuter, Gugun Blues, Scaller,The Adams, Pesta Rap Reunion, Jogja Hip Hop Foundation dan dua legenda yang ditunggu-tunggu waktu itu Ebiet G Ade dan OM Pengantar Minum Racun ( PMR ) . Ini yang saya ingat sebenarnya masih banyak pengisi acara yang lain karena ada empat Stage dan satu Ruang khusus untuk musik Disco.

 Acara dimulai jam empat sore, waktu itu saya memilih menonton Indische Party, karna selain suka saya membawa CD untuk dilegalisir. Banyak tokoh-tokoh musik yang ilir mudik kesana kemari seperti Adib Hidayat ~ Pemimpin Redaksi Rolling Stone Indonesia, David Katro ~ Pemilik Demajors dan dua seniman asal Institut Kesenian Jakarta, Ricky Malau dan Jimi Multazham sang vokalis The Uptairs. Saya juga tidak lupa meminta legalisir dan berphoto ria bersama dia.


 Sebelum break magrib tiba para generasi muda asik bergoyang dari alunan Hallo Dangdut yang berisi kolaborasi musisi Rock seperti Andi /rif, Denada dan biduan-biduan seksi lainya. Break magrib saya isi dengan mondar-mandir melihat pernak-pernik, stand pakaian, stand minuman keras dan tentunya mengisi perut untuk tenaga konser berikutnya

Musisi legendaris yang ditunggu-tunggu pun tiba, Ebiet G Ade dengan gitar bolongnya naik panggung. Dia hanya butuh satu gitar untuk membuat ribuan mata khusyuk menikmati lagu demi lagu lawasnya. "Camelia" ,"Titip Rindu Buat Ayah" sukses membuat penonton yang didominasi remaja milenial bernyanyi bersama. Dan siapa sangka ditengah musik berjalan segerombolan pria berbatik datang memisah penonton,  Presiden Indonesia Bapak Joko Widodo berserta Ketua Badan Ekonomi Kreatif Bapak Triawan Munaf datang ditengah-tengah penonton. Usai menonton Ebiet G Ade para rombongan lanjut menuju Stage yang sedang menampilkan Deadsquad dan lanjut menuju Stage yang sedang mementaskan Shaggy Dog. Untuk pertama kalinya saya melihat langsung presiden yang gemar menonton sebuah pagelaran musik.

 Kelar para rombongan meninggalkan festival saya sibuk mondar-mandir stage NTRL, Elepand Kind, Tohpati Bertiga dan Steven Jeam menjadi pilihan tontonan berjam-jam.

   Sekedar catatan : Festival ini sangat berhati-hati dalam hal rundaw acara karena hampir semua pengisi acara tampil di waktu yang sesuai dan sangat amat mengutamakan kebersihan, tidak terlibat sampah berserakan dimana-mana.

  Semakin malam semakin ramai dan banyak musisi-musisi yang ilir mudik menonton sesama musisi. Tony Q Rastafara menjadi pilihan yang saya tonton. Lanjut Fourtweenty dan terakhir yang paling ditunggu-tunggu tampil pula. Orkes paling legendaris di Indonesia siapa lagi kalau bukan Orkes Moral Pengantar Minum Racun ( OM PMR ). Tua, muda, penggemar Rock, Metal, Punk, Jazz, Blues, Rap, Ballad, Rock and Roll campur menjadi satu dalam irama musik khas orkes ala PMR. Nomor-Nomor seperti "Tato atau Panu", "Menghadiri Resepsi", "Bintangmu-Bintangku". Membuat semua para penggemar musik lupa akan hari esok. Bahkan lagu paling fenomenal PMR yakni "Judul-Judulan" Sampai di bawakan dua kali.


 Sebuah festival yang tidak akan dilupakan oleh setiap pengujung dan akan terus dinantikan setiap tahunnya. Terima kasih Demajors. Terima kasih kalian kalangan Independent keren. Buatlah musik Indonesia berkuasa di negeri nya sendiri
Berphoto Bersama Jimi Multazham