Jumat, 26 Januari 2018

Agen FBI Terbesar sepanjang Sejarah Amerika


Skandal Watergate 1974  ( kecurangan pencalonan presiden Ricard Nixon ) menjadi skandal politik terbesar sepanjang sejarah Amerika Serikat. Skandal yang bermula dari ditemukan sekelompok orang yang menyadap kantor partai Republik untuk keperluan parta Demokrat.

Kasus ini pun terus di investigasi oleh dua jurnalis harian The Washington Post yakni Bob  Woodward dan Carl Bernstein.  Investigasi pun terus berlanjut dari orang-orang penting yang terlihat. Hampir semua dari mereka menutup mulut rapat-rapat karna kasus ini memiliki akar kepala di gedung putih. Tapi dari itu semua terdapat satu agen FBI yang ingin membantu dua jurnalis ini karena kecewa lembaganya sudah di batasi penyidikannya. Wawancarapun terjadi antara agen FBI dengan jurnalis The Washington Post yang terjadi di basement salah satu kantor. Esok harinya berita yang telah di siapkan terbit dengan narasumber
Memakai nama samaran Deep Throat. Amerika pun guncang dengan hadirnya berita ini.

Dengan investigasi yang terus berlanjut dan satu persatu rahasia terbongkar di publik. Maka presiden pun mengundurkan diri dari jabatannya sebagai presiden terpilih dua periode. ( pertama dalam sejarah Amerika seorang presiden mengundurkan diri) akibat malu rahasia kecurangan nya terbongkar media.

Hasil berita ini pun mendapat penghargaan Puiltzer (penghargaan tertinggi bidang jurnalis ) dan beberapa tahun kemudian kisah dua orang jurnalis inupun diangkat ke film dengan judul "All The Presiden Man's " .

Bob dan Carl terus berjanji tidak akan memberi tahu kepada siapa pun sosok sebenarnya yang dimaksud Deep Throat. Hingga 31 tahun setelah berikutnya di dalam wawancara majalah Vanity Fair ada seseorang yang mengaku sebagai Deep Throat. Yakni Mark Felt. Orang nomor dua di lembaga FBI selama 30 tahun lebih.

Film ini mengangkat cerita nyata dari seorang agen FBI yang laporannya menjadi laporan terbesar sepanjang sejarah Amerika.

Apakah dia pengkhianat atau pahlawan ? Tontonlah filmnya dan cari kesimpulan pribadi. Aktor Liam Nesson sangat sukses memerankan Mark Felt. Oh iya sebelum menonton Mark Felt. Lebih dulu menonton film All The Presiden Man's

Rabu, 24 Januari 2018

Segelintir cerita singkat kerajaan Soeharto

Jenderal TNI Soeharto atau setelah ibadah Haji berubah menjadi lebih lengkap Bapak HM Soeharto. Kira-kira seperti itulah sebutkan yang sering di eluk-elukan para politikus era orde baru ( Orba ). Seorang presiden yang berkuasa lebih dari 30 tahun di Indonesia. Uniknya, era orde baru adalah era dimana paling banyak bersimbah darah semasa kepemimpinan sang presiden.

Dimulai ketika 1965 sampai 1966 setelah para anggota dan simpatisan Partai Komunis Indonesia.  ( yang sebenarnya hanya ikut-ikutan saja) dipenggal tanpa henti-hentinya. Bisa dibilang ini sebagai era paling sadis selama perjalanan bangsa ini setelah kemerdekaan RI. Selang beberapa waktu kemudian melalui Surat Perintah 11 Maret ( Supersemar ) yang diperoleh oleh Sarwo Edie setelah meminta kepada presiden Soekarno agar memberikan mandat keamanan negeri kepada Soeharto. Uniknya, surat yang semula hanya untuk keamanan sementara ini disalah artikan oleh para politikus era itu untuk mengubah aluhan. Maka dengan bantuan Abdul Haris Nasution, melalui TAP MPRS mengangkat Soeharto sebagai presiden kedua Indonesia. Dengan sendirinya sang presiden pertama Ir Soekarno kehilangan semua kekuasaannya secara serempak dan menetapkan sebagai tahanan rumah karena berbagai pasal yang sebenarnya tidak masuk akal.

Tinggal di wisma, tidak diijinkan dijenguk keluarga, tidak diberikan fasilitas televisi dan koran harian, tidak diberikan obat-obatan selayaknya, tidak diijinkan berjalan-jalan sore dan paling parah hanya mendapatkan pengobatan dari seorang dokter hewan. ( baca selengkapnya di buku "Hari-hari terakhir presiden Soekarno" jika ingin jelasnya)

 Sampai meninggalnya sang presiden di RS Gatot Subroto pun penanganan dari rumah sakit tidak maksimal ( pikir saja. Dirawat di RS Gatot Subroto. RS ini di bawah naungan Angkatan Darat. Presiden waktu itu berasal dari Angkatan Darat ) sebenarnya sama saja membunuh sang presiden namun perlahan demi perlahan.

Bergeser ke beberapa tahun berikutnya, 15 Januari 1974 atau lebih dikenal dengan peristiwa Malari. Dimana terjadi demontrasi besar-besaran Mahasiswa Universitas Indonesia dan beberapa kampus lain untuk menentang modal asing di Indonesia, yang waktu itu diawali oleh  negara Jepang sebagai awal mula investasi asing
masuk menjalin kerja sama.

Tragedi ini pun memunculkan nama Hariman Siregar yang waktu itu masih dikenal sebagai aktivis kampus UI dari pihak demonstran dan Ali Moertopo dan Sumitro di pihak pemerintah yang waktu itu menjabat ajudan presiden 1 dan 2. Tragedi ini pun merusak hampir seluruh daerah di Jakarta khususnya proyek Senen yang waktu itu menjadi icon berkumpul warga Ibukota.  Setelah  tragedi ini berakhir pemerintah Soeharto lebih ketat dengan aturan-aturan untuk lebih menjaga kestabilan dengan memantau semua koran harian, radio, televisi, peraturan kampus, sampai aktivitas- 
Aktivitas yang dikiranya bisa mengganggu atau mengusik pemerintah.  

Memasuki era 80an sedikitnya ada dua peristiwa berdarah yang paling terkenal pada masa itu. Sekedar info:  80an adalah 
Masa paling jaya bagi presiden Soeharto. Orde baru semakin kuat dengan bantuan Abri Birokrasi dan Golkar atau pada masa itu disingkat ABG. Nama-nama politikus yang sangat dominan di era ini seperti LB Moerdani, Harmoko, Sudharmono, Sudomo, Try Sutrisno dan lain-lain silih berganti menghiasi pemberitaan kala itu.Yang pertama adalah Petrus (Pembunuhan Misterius) objek kegiatan ini disematkan untuk 
Membersihkan para jambret, preman pasar, atau orang2 bertato lainya. Preman yang pada siang harinya berkuasa di suatu pasar, besok paginya bisa hilang seketika tanpa jejak kemana hilangnya. Proyek yang terkenal dengan istilah "Bunuh, masukin karung lalu buang ke laut"  sangat kental di kalangan 
masyarakat waktu itu. Banyak rumor beredar bahwa proyek yang kemungkinan menghilangkan nyawa ratusan ribu ini karna konflik di dalam Abri sendiri. Antara pengikut Ali Moertopo dan Sumitro. ( Dua jenderal ini memang banyak merekrut orang-orang jalanan untuk kepentingan kariernya ) ada juga rumor seperti proyek balas dendam seorang Abri kepada preman bertato akibat 
Masalah pribadi. Proyek Abri ini juga dikenal dengan sebutkan "Tim Mawar" karna memburuh orang yang bertato bunga mawar.

Yang kedua adalah peristiwa Tanjung Priuk. Peristiwa yang memunculkan nama Try Sutrisno sebagai dalang ini sangat terkenal di masa itu. Pembantaian umat islam dan
Penahanan tokoh ulama atau cendikiawan muslim sekitar. Cerita berawal dari seorang ulama Abdur Qadir Jaelani yang menurut pemerintah orde baru melakukan kritik atau provokasi melalui 
ceramah. Lalu cerita berlanjut dari dua orang Tentara sekaligus Babinsa setempat yang masuk ke area mesjid tanpa melepas sepatu saat ulama Abdul sedang berceramah. Maka mengakibatkan masyarakat menjadi geram dan terjadi kontak fisik, dan memuncak selang beberapa waktu kemudian aparat Abri berserta pasukannya menyerang warga sekitar membabi buta dan menahan ulama- ulama setempat. Peristiwa ini juga membuat ratusan orang kehilangan nyawa secara cuma-cuma. 


Mencapai puncak kekuasaan dengan darah, turun pun dengan darah. Di dalam buku "30 tahun pemerintahan otoriter Soeharto" kaya Profesor Salim Said dijelaskan : Di akhir masa-masa kekuasaan orde baru Abri pecah menjadi beberapa  kubu.  Banyak istilah muncul, seperti Abri istana dan Abri Lapangan, barisan sakit hati, kubu Soeharto dan kubu LB Moerdani. Dan masih banyak lagi 
Masalah-masalah internal di dalem tubuh Abri sendiri. Masuk periode 1997 situasi negara terguncang. Krisis Moneter ( Krimos) melanda Indonesia. Banyak pabrik bangkrut, PHK serentak, harga barang melambung tinggi, tingkat kejahatan meningkat. Dan setelah itu semua rakyat Indonesia seperti 
Memiliki musuh bersama yakni sang raja yang sudah memimpin selama 30 tahun lebih.

Demonstrasi tak bisa dibendung lagi. Di dalam artikel "Adili Soeharto" karya Wendi Putranto mantan editor majalah Rolling Stone mengatakan  "Situasi kota sangat mencekam. Api dimana-mana. Seperti ini kah penggulingan suatu rezim" . Wendi Putranto adalah 20 mahasiswa pertama yang menduduki puncak gedung DPR/MPR.  Demontrasi yang hampir seminggu ini pun terus berjalan sampai sang diktator menyatakan lengser. Soeharto yang kala itu baru saja pulang dari Arab dari kunjungan negera. Melakukan rapat bersama dengan jenderal-jenderal tinggi waktu itu. Rumornya Panglima Abri saat itu. Wiranto, sampai harus bolak-balik markas Abri  dan jalan Cendana khusus mempersiapkan semua hal. Harmoko yang waktu itu menjabat ketua DPR/MPR pun tak luput dari tuntutan mahasiswa untuk mendesak Soeharto lengser.

Uniknya, beberapa bulan sebelum demonstrasi terjadi Harmoko mengangkat presiden untuk masa jabatan 1998-2003 baru berjalan beberapa bulan saja Harmoko pula yang mendesak Soeharto untuk lengser. Sekedar catatan : Jika saja demontrasi tidak terjadi maka sudah dipastikan pada periode berikutnya salah satu putri presiden, Mbak Tutut mengggantikan sang ayahnya. Maka terjadilah politik dinasti di negara ini. Tapi kita harus bersyukur hal itu tidak terjadi karna Soeharto lengser tahun 1998 dan digantikan BJ Habibie yang waktu itu menjadi wakil presiden.

Perlu diakui, banyak hal baik terjadi di masa orde baru, berdirinya Koperasi, Puskesmas, program pemberantasan buta huruf, program imunisasi, swa sembada pangan, masuknya investasi asing, masuknya budaya populer dunia ke Indonesia.
Tapi memiliki kekuasaan terlalu lama, memberantas yang tidak sepaham, memberdayakan semua media untuk kepentingan sendiri, memperkaya diri dan keluarga tetap menjadi hal yang sangat salah.

Perlu di ingat. Budaya Korupsi yang menyakiti kalangan birokrasi dari hal paling bawah seperti kelurahan, kecamatan, bupati, walikota sampai tingkat tertinggi adalah warisan orde baru  paling sulit dilepaskan dari setiap sudut kehidupan bangsa ini.

Selasa, 23 Januari 2018

Wawancara PSK dan Bisnis Esek-Esek Pelosok Karawang

Selama gue bekerja sebagai kontributor di harian Karawang Bekasi Expres ( Jawa Pos), banyak sekali cerita menarik dan tentunya teman baru disetiap minggunya. Tapi mungkin ini pengalaman terbaik dari yang terbaik selama gue menjadi wartawan harian di media yang dulu bermarkas di belakang RS Dewi Sri Karawang. 
Dari beberapa kedinasan yang berada di Karawang, mungkin hanya dua kedinasan yang sangat melekat dengan gue. Dinas Sosial dan Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup ( BPLH ), yang pertama gue sebut tadi menjadi cerita di tulisan kali ini. Kegiatan-kegiatan Dinas Sosial memang selalu membuat gue tertarik karna banyak hal sangat manusiawi disana. 

Pemberdayakan pengamen-pengamen, Pekerja Seks Komersial, Pengemis, dan orang-orang kepinggirkan lainnya. Suatu kerjaan yang butuh kesabaran dan ketulusan khusus (diluar gaji pokok pns) yang mereka peroleh. Cerita berawal dari Pak Dani Sonjaya. Kepala bidang lapangan waktu itu yang menghubungi gue. "Kang can, minggu depan kita kedatangan tamu dari PSKW Jakarta, untuk kegiatan pemberdayaan psk". Tanpa pikir panjang gue langsung mengiyakan ajakan bapak Dani ini. Sekedar info : PSKW adalah singkatan dari Pusat Sosial Karya Wanita yang terletak di Pasar Rebo Jakarta. Lembaga ini langsung dibawahi oleh Kementerian Sosial. Ketua PSKW waktu itu bapak M. Ali Samantha. 

Selang seminggu kemudian. Gue dateng sesuai waktu yang ditentukan di dinas sosial karawang. (Waktu itu sudah lengkap semua pegawai PSKW sekaligus kepala lembaganya). Maka ikutlah gue dengan rombongan menuju daerah Tempuran. Sekedar info : kegiatan ini adalah upaya dari Kementerian Sosial untuk mengurangi angka psk agar beralih profesi, kegiatan ini digelar selama hampir satu minggu. Dengan memberikan bantuan uang kes, perlengkapan memasak, keterampilan serta siraman rohani. !  Maka berkumpulah puluhan psk di satu titik. Tidak cuma perwakilan dinas, kepolisian dan tokoh agama juga di ikut sertakan. Maka terjadilah session tanya jawab tentang dunia bisnis esek-esek uduk uduk ini. Setau gue, gue satu -satunya wartawan yang hadir meliput. Lanjut dari Tempuran. Tim pskw menuju daerah pesisir Karawang, Pedes Jaya. Perjalanan yang melelahkan inipun gue lewati dengan sabar dan mencoba profesional. Lagi-lagi hal yang sama pun disematkan di daerah ini sama seperti daerah sebelumnya. Hal yang sangat baru bagi gue. Untuk menyaksikan di hadapan mata puluhan pekerja seks komersial di siang hari bolong. Bayangkan dari pagi kegiatan ini baru kelar sore sekitar pukul lima. Dan setelah itu  gue dikejar-kejar deadline untuk mengetik agar berita ini bisa naik cetak besok pagi. (Oh iya. Selama acara ini digelar. Perwakilan dari dinas menginap di hotel Dewi depan RS Bayukarta). Besok harinya berita tentang kegiatan ini pun naik cetak, gue langsung bergegas mendatangi para pegawai PSKW yang jumlahnya enam orang ini dengan membawa koran hasil berita kemarin. Setelah ngobrol ngalur ngidul 
Dengan mereka. Ternyata mereka berniat memantau langsung tempat prostitusi yang paling terkenal di karawang yakni Se'er.  Tanpa pikir panjang gue langsung memberi jadwal besok malam untuk menemani pegawai-pegawai tingkat kementrian ini berjalan-jalan ria ke tempat yang sangat legendaris itu. Dan benar, besok malam ketika gue sampai di hotel mereka sudah siap untuk memantau langsung Se'er. Ketika sampai di tempat, Langsung saja gue ajak memutar-mutar bak seperti pria yang sedang mencari mangsanya. Sambil mengisap rokok yang tak henti hentinya putus dimulut. Gue mencoba setia menemani mereka meninjau langsung tempat ini. (Pengalaman yang unik mungkin tidak akan terulang lagi) 

Selang sehari setelah memantau langsung Se'er bersama orang-orang intelektual ini. Acara penutupan kegiatan ini pun tiba. Para rombongan serta dinas sosial kembali memantau sejauh mana perubahan mental mereka. Rombongan dan gue pun kembali ke tempat yang sama. Tempuran dan Pedes Jaya. Sekedar memberikan salam perpisahan dan berswaa photo bersama. Disini pula gue mendapat kesempatan untuk mewawancarai salah seorang PSK daerah Pedes Jaya. Wawancara yang singkat namun berkesan.

Nama sengaja tidak gue sebutkan karna privasi seseorang. Seperti ini hasil wawancara tersebut : 

Gue : Sudah berapa lama bekerja menjadi psk ? 
Bunga : Kira-kira dua tahunan a. 
Gue : Disini kebanyakan janda ya. Emang bener ? 
Bunga : Iya a, soalnya pada ditinggal suaminya 
Gue : Emang pada kemana suaminya ? 
Bunga : Pergi ga mau nanggung hidup 
Gue : Emang benar disini masih murah ya 
Bunga : Iya a. Pasaran 50,70 sampai seratus. Rata-rata nelayan. Tukang ojek. Sama kuli 
Gue : Oh. Murah bgt ya, kalo di kota udah besar teh 
Bunga : Iya a. Saya juga tau. Kan disini semua di rolling. Jadi tuh dari sini nanti ke Tempuran terus ke rel kereta terus ke daerah sebelum  Loji itu, muter aja. Biar ga bosen. 
Gue : Oh gitu ya system kerjanya. Aa baru tau. Pernah coba buat dagang ? 
Bunga : Pernah. Dagang bala- 
Bala, cuma gitu kecil dapetnya. Palingan sehari 80 sampai seratus. Kalo misalkan sekali ngangkang udah bisa dapet segitu. Jadi mendingan ngangkang dari pada dagang 
Gue : oh iya iya. 
Bunga : Butuh a. Siapa lagi yang mau biayain saya sama anak saya 
Gue : Iya iya teh. Saya paham.  Disini asli karawang ya ? 
Bunga : Engga a. Subang. Garut.  Bandung. Karawang nya malah dikit. 
Gue : oke gitu. Semoga habis kegiatan ini bisa ada jalan cari rejeki yang lain ya teh. 

Wawancara ini gue lakukan di daerah Pedes. Dan boleh kalian percaya atau ga ? Gue melakukan wawancara ini di pinggir laut.


Minggu, 21 Januari 2018

Tahun Baru, Nuansa Baru Musik Karawang

Nuansa musik, ya. Kali ini saya akan membahas sedikit tentang geliat dan harapan saya  tentang nuansa musik dan seni di kota lumbung padi tercinta ini. Dari pengalaman setahun menimba ilmu di dua media KarawangToday.com dan Karawang Bekasi Expres serta beberapa pengalaman membuat event, baik itu berdiri sendiri atau gabung dengan teman-teman sesama penggiat musik. Dari beberapa obrolan saya dengan teman-teman pelaku bidang ini baik itu penyiar radio, event organizer (EO), musisi, mc acara, guru musik, jurnalis, management mall sampai pemilik studio sewa. 

Perkembangan musik kota ini masih dalam tahap berjalan di tempat walau beberapa kali sempat menunjukan tajinya namum kembali tenggelam di telan waktu. Sejenak kita talik ulur waktu mulai era 2000an awal yang sedang boomingnya genre Pop Rock, lalu bergeser ke era 2005-2009 yang sempat meledak Pop Melayu berlanjut ke tahun 2010-2011 yang terjadinya demam Pop Punk. Kemudian mencetusnya virus Reggae yang mampir ke se-antero Karawang di tambah kokohnya jenis musik Metal di kalangan Urban Karawang. Serta idealisnya para Mahasiswa-Mahasiswi yang rutin menggelar Musikalisasi Puisi. Dan tentunya pementasan Live DJ yang akhir-akhir ini masih tetap digemari para pemujanya. 

Dari sederet sejarah diatas jelas terlihat bahwa penggemar musik kota ini sangat beragam dan dinamis, khususnya bagi mereka yang selalu rutin mengikuti dan selalu update perkembangan musik dalam negeri. Ini adalah hal yang sangat ideal bagi suatu kota yang memang butuh hiburan bagi wargannya. 

Tapi dengan periode musik yang tadi saya sebutkan diatas ditambah berkembang sangat pesatnya kota Karawang dari tahun ke tahun serta membludaknya para pendatang untuk mengadu nasib di kota ini, sangat mungkin Karawang akan menyamai kota-kota besar macam Jakarta dan Bandung dalam mengadakan pagelaran musik kedepannya. Ini merupakan salah satu hal yang lambat laun pasti akan terjadi dan perekonomian akan berputar cepat. Sumber Daya Manusia (SDM) yang setiap tahun meningkat dan kesadaran akan suatu hiburan atau tontonan seni menjadi tolak ukur kedepannya. 

Selain itu Karawang juga tetap memiliki kesenian tradisional yang patut dibanggakan dan dilestarikan. contohnya ( Beberapa sanggar Tari dan  kesenian Rampag Gendang, seni Angklung SMPN 3 Karawang dan SMAN 4 Karawang ) yang selama ini terus bergerak kesana-kesini dan selalu mendapatkan pujian. Ini juga menjadi salah satu alasan kesenian tradisional dan budaya populer bisa berjalan bersama-sama di daerah ini sama halnya dengan Jakarta dan Bandung. 

Namun hal-hal keren ini tidak dibarengi dengan dukungan penuh Pemerintah Daerah (Pemda) . Sedikitnya kegiatan yang digelar dalam kurun waktu setahun ditambah tidak adanya fasilitas yang mendukung itu semua. ( walaupun ada tidak berjalan dengan semestinya). Di karawang sendiri hanya ada beberapa kali kegiatan seni yang melibatkan Pemerintah Daerah. Salah satunya mungkin Karawang Creative Night (KCN) yang dikoordinir oleh media Fakta Jabar yang sudah berjalan sampai beberapa tahun, patut diberi apresiasi tinggi untuk ini. Setelah itu tidak ada event-event yang membuat semua warga Karawang jadi terpusat menjadi satu. Hanya ada acara-acara memorial biasa. Faktor berikutnya tidak adanya gedung kesenian yang khusus dirancang untuk kegiatan musik dan kesenian lainnya, mungkin kita punya Kampung Budaya namum belum berjalan dengan maksimal. Selama ini kalangan pelaku musik lebih memanfaatkan fasilitas-fasilitas swasta yang berada di Karawang, sebut saja Area Parkir Festive Walk, Lobi Depan Mall KCP, Koridor Tecnhno Mart dan beberapa Cafe - Cafe yang akhir-akhir ini banyak bermunculan. Beberapa tahun lalu mungkin kalangan Indipenden memilih Gedung KNPI atau Aula Disbudpar untuk melampiaskan hasyat mereka berkesenian. berjalannya waktu kedua gedung ini sudah jarang dilirik karena kurangnya fasilitas. 

Semasa gue bekerja di jalanan dulu, banyak sekali bakat-bakat yang tersimpan dari sekitar Karawang kota sampai pelosok-pelosok yang pernah saya temui. Bakat-bakat terpendam ini seperti tidak tau arah dan tujuan kemana melampiaskan bakat mereka. Alangkah indahnya bukan jika Karawang memiliki gedung serba guna milik Pemerintah yang khusus dibangun untuk mengekpos bakat dan keterampilan mereka. Rutin mengadakan acara reguler tiap dua minggu atau sebulan sekali khusus menampilkan putra-putri Karawang.

Kegiatan seperti ini bisa terlaksana dengan kolaborasi antara orang-orang yang mewakili Pemerintah dan orang-orang yang mewakili remaja kreatif, dengan cara membagi tugas. Menyiapkan fasilitas (Orang-orang pemerintah) dan mencari bakat-bakat untuk ditampilkan ( orang-orang kreatif ). Kita bisa mengambil contoh dari Komplek Taman Ismail Marzuki ( TIM ) dan Dewan Kesenian Jakarta, pepaduan antara pihak pemerintah dan remaja-remaja kreatif ini sukses membuahkan hasil menjadikan Tim sebagai pusat kesenian baik itu Seni Musik, Seni Tari, Seni Teater, Seni Visual, Seni Komedi sampai Seni Literasi di dalam satu pusat.    


 

Mungkin kita masih tertolong dengan adanya Das Kopi yang rutin mengadakan acara baik itu musik atau diskusi yang memberikan angin segar bagi para penikmatnya serta ditambah komunitas-komunitas seni yang masih mengadakan event seperti  ID Karawang, IBF Karawang atau LOG  Karawang adan  beberapa fans-fans club gabungan yang melakukan kegiatan Tribute untuk band idola mereka. Kita juga bisa mengambil contoh dari dua komunitas seni di Karawang yakni Perpustakaan Jalanan Karawang dan Stand up Comedi Karawang yang rutin melalukan kegiatan-kegiatan ringan untuk memajukan bidang yang mereka usung masing-masing. Perpustakaan Jalanan dengan semangat literasinya dan Stand up Comedi dengan minat melucunya. Lapangan KarangPawitan dan Limasan Cafe mungkin bisa disebut saksi bisu kegiatan rutin dua komunitas ini. 

Semoga opini ini bisa sampai kepada Teh Celli dan Kang Jimi serta para anggota dewan DPRD yang terhormat. bukankah Presiden Joko Widodo membangun Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) untuk memajukan perekonomian melalui jalur kesenian. Jakarta, Bandung, Yogjakarta, Malang, Medan sudah membuktikan. Memang, mayoritas remaja Karawang mengharapkan bekerja di suatu pabrik dengan gaji yang besar, Tapi menjadikan bisnis musik sebagai sampingan juga bukan suatu hal yang salah. apalagi bisa untuk melatih keterampilan sedari dini untuk remaja yang masih duduk dibangku sekolah. 





Minggu, 14 Januari 2018

Dari Catatan Si Boy, Lupus, Rangga hingga Dilan

Awal tahun 2018 ini akan menjadi periode untuk idola baru. Dirilisnya film  "Dilan 1990" akhir januari mendatang menjadi hari yang paling ditunggu- tunggu oleh para pemuja tokoh ini, film yang di angkat dari novel laris karangan Pidi Baiq telah merasuki jiwa dan raga para penggemar setianya.  Dari yang semula hanya  kalangan pecinta novel sampai penggemar karbitan  yang hanya ikut-ikutan.

Balik ke judul cerita. Jauh sebelum Dilan menjadi orang yang dipuja-puja. Indonesia sempat memiliki tokoh-tokoh idola lainya. Pada era yang berbeda dan zaman yang berbeda. Dimulai dengan  "Catatan Si Boy". Film yang pertama rilis pada tahun 1987 dan bersekuel hingga beberapa kali ini menjadi idola baru remaja era 80an, khususnya remaja Ibukota dan sekitarnya, bagaimana tidak. Boy yang mencerminkan anak pengusaha kaya raya, rajin solat, ganteng, digilai banyak wanita, sekolah di Amerika Serikat menjadi sosok yang amat sangat disembah-sembah hampir seluruh wanita pada era itu. Apalagi dengan adanya satu stasiun televisi (TVRI), beberapa radio dan koran harian saja pada era itu. Apapun yang diberitakan akan menjamur cepat bagaikan  lumut ijo di trotoar-trotoar sepanjang jalan kota Bogor.

Onky Alexander dan Merliam Berlina melesat nyaris tanpa ada pesaing berarti pada waktu itu, di film ini pun Alm Didi Petet menjadi sangat terkenal berkat peranya sebagai Emon dengan karakter gemulai kebanci-bancian yang memiliki ciri khas dengan memanggil nama " Mas Boy" di setiap adegan, maka jadilah Si Boy mahabintang yang mungkin jasanya tidak akan terlupakan mengisi masa-masa indah remaja 80an yang saat ini sudah berusia sama seperti kedua orang tua kita.


 










Kedua adalah Lupus karya Hilman Ariwijaya, novel yang laku keras di akhir 80an ini pertama terbit pada tahun 1986 dengan judul " Kejarlah Daku Kau Kujitak". saking laku kerasnya novel ini tahun berikutnya tepatnya 1987 dibuatkan film oleh sutradara Achiel Nasrun. Ada beberapa faktor Lupus begitu disukai oleh para pembaca dan penggemarnya begitu lama dari akhir 80an hingga masuk ke periode 90an awal. Karakter Lupus sangat berbeda dengan Boy, Lupus sendiri mencerminkan karakter yang sederhana, jail, ayah yang meninggal pada saat dia masih sangat muda, selalu membantu ibunya, bersekolah di SMA Merah Putih, memiliki teman sejati bernama Boim dan Gusur serta hal yang selalu identik denganya, yakni mengunyah perman karet. ( mungkin karakter ini lebih disukai remaja karna lebih masuk akal untuk kehidupan sehari-hari  ketimbang Boy, yang nyaris kecil ditemukan pada era yang itu ).

Selain meledak di film Lupus juga memiliki belasan edisi novel. mungkin ini penyebab pertama Lupus bisa bertahan lebih lama ketimbang Onky Alexander bersama Catatan Si Boy nya.
Ryan Hidayat. pelaku utama karakter ini lebih mengena di kalangan kaum urban Ibukota. Filmnya bumming, novelnya selalu dicetak ulang dan  karakter yang semua pria bisa melakukannya ( Tidak perlu kaya raya).


Itulah dua tokoh remaja era Orde Baru (Orba). Era dimana jika ingin menjadi terkenal wajib melalui beberapa jalur yang meribetkan tidak seperti sekarang yang sudah serba digital dan tentunya lebih murah meriah bagai kacang goreng di pinggiran jalan Puncak Bogor. 

Masuk ke era millenium atau tepatnya setelah Reformasi ( Lengsernya presiden diktator yang telah berkuasa selama lebih dari 30 tahun. Bapak Haji Muhamad Soeharto). Remaja indonesia memiliki idola baru yang lebih fress. Rangga dari dari film " Ada Apa Dengan Cinta" atau sering disingkat AADC mewakili generasi 2000an. Bersama film " Pertualangan Sherina". Kedua film ini sukses membangkitkan industri film yang sempat meredup beberapa tahun akibat krisis moneter yang melanda negeri ini. lewat AADC juga tren idola remaja kembali populer di khalayak generasi muda. 

Tokoh yang identik dengan karakter yang tidak banyak bicara, pintar, tatapan mata tajam serta angkuh namun sebenarnya lembut hati ini sukses diperankan oleh Nikholas Saputra yang berpasangan dengan Dian Sastrowardoyo yang memerankan karakter Cinta. maka jadilah pasangan ini bagai "Romeo dan Juliet" nya Indonesia pada era tersebut. 

Angka penonton yang jutaan, idola baru bagi remaja, film yang membangkitakn industri sinema dan original soundtrack yang sempurna digarap oleh dua musisi handal Melly Goeslaw dan Anto Hoed menjadikan Rangga dan AADC pantas masuk ke dalam daftar " Peristiwa yang mengubah budaya populer Indonesia". Tak heran jika beberapa tahun berikutnya film AADC Kembali dibuat sekuel keduanya. Sedikit tambahan, film ini juga membuat daerah Kwitang ( Pasar Buku Bekas ) menjadi terkenal se-Indonesia karna beberapa adegan mengambil shoot di tempat itu, 




Terakhir adalah tokoh yang saat ini sedang amat sangat dipuja-puja  remaja khususnya kaum hawa, yakni Dilan yang diangkat dari novel laris "Dilan 1990" karya  presiden " The Panas Dalam" Pidi Baiq. Dari ketiga tokoh yang gue sebutkan di atas mungkin ini yang betu;-betul gue rasakan pengaruhnya. Ada beberapa penyebab diantaranya : Novel ini yang gue baca hingga tamat tiga sekuel sekaligus berturut-turut. Cerita novel ini bisa sangat gue rasakan karna diangkat dari kisah nyata. dan  yang paling penting, Gue sudah bertemu sang penulis dan meminta tanda tangan langsung. 

Dilan menceritakan seorang remaja kelas 2 SMA di salah satu sekolah negeri di daerah Bandung, memiliki ayah tentara dan ibu kepala sekolah, hobi membaca dan membuat puisi, suka musik dan sering ngeband sekaligus panglima geng motor ternama di kota Bandung. Banyak issu beredar cerita Dilan adalah pengalaman pribadi dari sang penulis, ada beberapa hal sama yang memang sangat mirip antara Dilan dan sang penulis. sama-sama mantan geng motor, remaja era 90an, hobi membuat puisi dan ngeband, bersekolah di kampus terpandang di kota Bandung. walaupun sampai saat ini Ayah. sapaan akrab Pidi Baiq enggan membocorkan siapa sosok Dilan sesungguhnya. 

Ketika pertama gue tau bahwa Dilan akan dibuatkan film, gue langsung berpikir, "Ini bakalan maenstreem banget nantinya". Dan prediksi gue pun benar terjadi. Dilan yang awalnya hanya dikenal dikalangan pecinta novel atau komunitas literasi saja, mendadak melesat naik tanpa batas ditambah dengan diumumkannya sosok Iqbal Ramadhan yang akan memerankan Dilan yang menemani Vanesha Prescilla yang lebih dulu mendapatkan mandat memerankan sosok Milea (Pacar Dilan). 

Semoga saja film Dilan nanti tidak mengecewakan para khalayak khususnya pecinta novel yang sudah menyukai sosok ini lebih dulu. 




Boy, Lupus, Rangga sampai Dilan adalah tokoh yang mencerminkan zamannya masing-masing. Karakter yang berbeda-beda, kisah yang berbeda-beda dan tentunya penggemar yang berbeda-beda. Suatu budaya populer yang tidak akan bisa ditolak dan kita tentunya akan menjadi saksi tokoh-tokoh idola remaja yang akan hadir di era berikutnya. 

Kamis, 11 Januari 2018

Gue Kembali

Setelah tiga tahun lamanya vakum di dunia tulis menulis. Entah itu di Koran Harian, Situs Online dan tentunya Blog. Hari ini gue memutuskan kembali menulis untuk mengisi waktu kosong. Dengan tema "Musik", "Politik", "Film" dan "Sastra". Empat hal yang tentunya gue sukai.

Selain mengisi waktu kosong akibat lainnya adalah banyaknya teman gue yang mengeluh karna gue selalu membuat caption  terlalu  panjang di media sosial Facebook dan Instagram.

Semoga Blog ini bisa untuk sarana membagi wawasan dan edukasi yang baik kepada teman-teman yang membacanya.

Nantikan tulisan pertama gue beberapa waktu mendatang.