Rabu, 24 Januari 2018

Segelintir cerita singkat kerajaan Soeharto

Jenderal TNI Soeharto atau setelah ibadah Haji berubah menjadi lebih lengkap Bapak HM Soeharto. Kira-kira seperti itulah sebutkan yang sering di eluk-elukan para politikus era orde baru ( Orba ). Seorang presiden yang berkuasa lebih dari 30 tahun di Indonesia. Uniknya, era orde baru adalah era dimana paling banyak bersimbah darah semasa kepemimpinan sang presiden.

Dimulai ketika 1965 sampai 1966 setelah para anggota dan simpatisan Partai Komunis Indonesia.  ( yang sebenarnya hanya ikut-ikutan saja) dipenggal tanpa henti-hentinya. Bisa dibilang ini sebagai era paling sadis selama perjalanan bangsa ini setelah kemerdekaan RI. Selang beberapa waktu kemudian melalui Surat Perintah 11 Maret ( Supersemar ) yang diperoleh oleh Sarwo Edie setelah meminta kepada presiden Soekarno agar memberikan mandat keamanan negeri kepada Soeharto. Uniknya, surat yang semula hanya untuk keamanan sementara ini disalah artikan oleh para politikus era itu untuk mengubah aluhan. Maka dengan bantuan Abdul Haris Nasution, melalui TAP MPRS mengangkat Soeharto sebagai presiden kedua Indonesia. Dengan sendirinya sang presiden pertama Ir Soekarno kehilangan semua kekuasaannya secara serempak dan menetapkan sebagai tahanan rumah karena berbagai pasal yang sebenarnya tidak masuk akal.

Tinggal di wisma, tidak diijinkan dijenguk keluarga, tidak diberikan fasilitas televisi dan koran harian, tidak diberikan obat-obatan selayaknya, tidak diijinkan berjalan-jalan sore dan paling parah hanya mendapatkan pengobatan dari seorang dokter hewan. ( baca selengkapnya di buku "Hari-hari terakhir presiden Soekarno" jika ingin jelasnya)

 Sampai meninggalnya sang presiden di RS Gatot Subroto pun penanganan dari rumah sakit tidak maksimal ( pikir saja. Dirawat di RS Gatot Subroto. RS ini di bawah naungan Angkatan Darat. Presiden waktu itu berasal dari Angkatan Darat ) sebenarnya sama saja membunuh sang presiden namun perlahan demi perlahan.

Bergeser ke beberapa tahun berikutnya, 15 Januari 1974 atau lebih dikenal dengan peristiwa Malari. Dimana terjadi demontrasi besar-besaran Mahasiswa Universitas Indonesia dan beberapa kampus lain untuk menentang modal asing di Indonesia, yang waktu itu diawali oleh  negara Jepang sebagai awal mula investasi asing
masuk menjalin kerja sama.

Tragedi ini pun memunculkan nama Hariman Siregar yang waktu itu masih dikenal sebagai aktivis kampus UI dari pihak demonstran dan Ali Moertopo dan Sumitro di pihak pemerintah yang waktu itu menjabat ajudan presiden 1 dan 2. Tragedi ini pun merusak hampir seluruh daerah di Jakarta khususnya proyek Senen yang waktu itu menjadi icon berkumpul warga Ibukota.  Setelah  tragedi ini berakhir pemerintah Soeharto lebih ketat dengan aturan-aturan untuk lebih menjaga kestabilan dengan memantau semua koran harian, radio, televisi, peraturan kampus, sampai aktivitas- 
Aktivitas yang dikiranya bisa mengganggu atau mengusik pemerintah.  

Memasuki era 80an sedikitnya ada dua peristiwa berdarah yang paling terkenal pada masa itu. Sekedar info:  80an adalah 
Masa paling jaya bagi presiden Soeharto. Orde baru semakin kuat dengan bantuan Abri Birokrasi dan Golkar atau pada masa itu disingkat ABG. Nama-nama politikus yang sangat dominan di era ini seperti LB Moerdani, Harmoko, Sudharmono, Sudomo, Try Sutrisno dan lain-lain silih berganti menghiasi pemberitaan kala itu.Yang pertama adalah Petrus (Pembunuhan Misterius) objek kegiatan ini disematkan untuk 
Membersihkan para jambret, preman pasar, atau orang2 bertato lainya. Preman yang pada siang harinya berkuasa di suatu pasar, besok paginya bisa hilang seketika tanpa jejak kemana hilangnya. Proyek yang terkenal dengan istilah "Bunuh, masukin karung lalu buang ke laut"  sangat kental di kalangan 
masyarakat waktu itu. Banyak rumor beredar bahwa proyek yang kemungkinan menghilangkan nyawa ratusan ribu ini karna konflik di dalam Abri sendiri. Antara pengikut Ali Moertopo dan Sumitro. ( Dua jenderal ini memang banyak merekrut orang-orang jalanan untuk kepentingan kariernya ) ada juga rumor seperti proyek balas dendam seorang Abri kepada preman bertato akibat 
Masalah pribadi. Proyek Abri ini juga dikenal dengan sebutkan "Tim Mawar" karna memburuh orang yang bertato bunga mawar.

Yang kedua adalah peristiwa Tanjung Priuk. Peristiwa yang memunculkan nama Try Sutrisno sebagai dalang ini sangat terkenal di masa itu. Pembantaian umat islam dan
Penahanan tokoh ulama atau cendikiawan muslim sekitar. Cerita berawal dari seorang ulama Abdur Qadir Jaelani yang menurut pemerintah orde baru melakukan kritik atau provokasi melalui 
ceramah. Lalu cerita berlanjut dari dua orang Tentara sekaligus Babinsa setempat yang masuk ke area mesjid tanpa melepas sepatu saat ulama Abdul sedang berceramah. Maka mengakibatkan masyarakat menjadi geram dan terjadi kontak fisik, dan memuncak selang beberapa waktu kemudian aparat Abri berserta pasukannya menyerang warga sekitar membabi buta dan menahan ulama- ulama setempat. Peristiwa ini juga membuat ratusan orang kehilangan nyawa secara cuma-cuma. 


Mencapai puncak kekuasaan dengan darah, turun pun dengan darah. Di dalam buku "30 tahun pemerintahan otoriter Soeharto" kaya Profesor Salim Said dijelaskan : Di akhir masa-masa kekuasaan orde baru Abri pecah menjadi beberapa  kubu.  Banyak istilah muncul, seperti Abri istana dan Abri Lapangan, barisan sakit hati, kubu Soeharto dan kubu LB Moerdani. Dan masih banyak lagi 
Masalah-masalah internal di dalem tubuh Abri sendiri. Masuk periode 1997 situasi negara terguncang. Krisis Moneter ( Krimos) melanda Indonesia. Banyak pabrik bangkrut, PHK serentak, harga barang melambung tinggi, tingkat kejahatan meningkat. Dan setelah itu semua rakyat Indonesia seperti 
Memiliki musuh bersama yakni sang raja yang sudah memimpin selama 30 tahun lebih.

Demonstrasi tak bisa dibendung lagi. Di dalam artikel "Adili Soeharto" karya Wendi Putranto mantan editor majalah Rolling Stone mengatakan  "Situasi kota sangat mencekam. Api dimana-mana. Seperti ini kah penggulingan suatu rezim" . Wendi Putranto adalah 20 mahasiswa pertama yang menduduki puncak gedung DPR/MPR.  Demontrasi yang hampir seminggu ini pun terus berjalan sampai sang diktator menyatakan lengser. Soeharto yang kala itu baru saja pulang dari Arab dari kunjungan negera. Melakukan rapat bersama dengan jenderal-jenderal tinggi waktu itu. Rumornya Panglima Abri saat itu. Wiranto, sampai harus bolak-balik markas Abri  dan jalan Cendana khusus mempersiapkan semua hal. Harmoko yang waktu itu menjabat ketua DPR/MPR pun tak luput dari tuntutan mahasiswa untuk mendesak Soeharto lengser.

Uniknya, beberapa bulan sebelum demonstrasi terjadi Harmoko mengangkat presiden untuk masa jabatan 1998-2003 baru berjalan beberapa bulan saja Harmoko pula yang mendesak Soeharto untuk lengser. Sekedar catatan : Jika saja demontrasi tidak terjadi maka sudah dipastikan pada periode berikutnya salah satu putri presiden, Mbak Tutut mengggantikan sang ayahnya. Maka terjadilah politik dinasti di negara ini. Tapi kita harus bersyukur hal itu tidak terjadi karna Soeharto lengser tahun 1998 dan digantikan BJ Habibie yang waktu itu menjadi wakil presiden.

Perlu diakui, banyak hal baik terjadi di masa orde baru, berdirinya Koperasi, Puskesmas, program pemberantasan buta huruf, program imunisasi, swa sembada pangan, masuknya investasi asing, masuknya budaya populer dunia ke Indonesia.
Tapi memiliki kekuasaan terlalu lama, memberantas yang tidak sepaham, memberdayakan semua media untuk kepentingan sendiri, memperkaya diri dan keluarga tetap menjadi hal yang sangat salah.

Perlu di ingat. Budaya Korupsi yang menyakiti kalangan birokrasi dari hal paling bawah seperti kelurahan, kecamatan, bupati, walikota sampai tingkat tertinggi adalah warisan orde baru  paling sulit dilepaskan dari setiap sudut kehidupan bangsa ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar