Perkembangan musik kota ini masih dalam tahap berjalan di tempat walau beberapa kali sempat menunjukan tajinya namum kembali tenggelam di telan waktu. Sejenak kita talik ulur waktu mulai era 2000an awal yang sedang boomingnya genre Pop Rock, lalu bergeser ke era 2005-2009 yang sempat meledak Pop Melayu berlanjut ke tahun 2010-2011 yang terjadinya demam Pop Punk. Kemudian mencetusnya virus Reggae yang mampir ke se-antero Karawang di tambah kokohnya jenis musik Metal di kalangan Urban Karawang. Serta idealisnya para Mahasiswa-Mahasiswi yang rutin menggelar Musikalisasi Puisi. Dan tentunya pementasan Live DJ yang akhir-akhir ini masih tetap digemari para pemujanya.
Dari sederet sejarah diatas jelas terlihat bahwa penggemar musik kota ini sangat beragam dan dinamis, khususnya bagi mereka yang selalu rutin mengikuti dan selalu update perkembangan musik dalam negeri. Ini adalah hal yang sangat ideal bagi suatu kota yang memang butuh hiburan bagi wargannya.
Tapi dengan periode musik yang tadi saya sebutkan diatas ditambah berkembang sangat pesatnya kota Karawang dari tahun ke tahun serta membludaknya para pendatang untuk mengadu nasib di kota ini, sangat mungkin Karawang akan menyamai kota-kota besar macam Jakarta dan Bandung dalam mengadakan pagelaran musik kedepannya. Ini merupakan salah satu hal yang lambat laun pasti akan terjadi dan perekonomian akan berputar cepat. Sumber Daya Manusia (SDM) yang setiap tahun meningkat dan kesadaran akan suatu hiburan atau tontonan seni menjadi tolak ukur kedepannya.
Selain itu Karawang juga tetap memiliki kesenian tradisional yang patut dibanggakan dan dilestarikan. contohnya ( Beberapa sanggar Tari dan kesenian Rampag Gendang, seni Angklung SMPN 3 Karawang dan SMAN 4 Karawang ) yang selama ini terus bergerak kesana-kesini dan selalu mendapatkan pujian. Ini juga menjadi salah satu alasan kesenian tradisional dan budaya populer bisa berjalan bersama-sama di daerah ini sama halnya dengan Jakarta dan Bandung.
Namun hal-hal keren ini tidak dibarengi dengan dukungan penuh Pemerintah Daerah (Pemda) . Sedikitnya kegiatan yang digelar dalam kurun waktu setahun ditambah tidak adanya fasilitas yang mendukung itu semua. ( walaupun ada tidak berjalan dengan semestinya). Di karawang sendiri hanya ada beberapa kali kegiatan seni yang melibatkan Pemerintah Daerah. Salah satunya mungkin Karawang Creative Night (KCN) yang dikoordinir oleh media Fakta Jabar yang sudah berjalan sampai beberapa tahun, patut diberi apresiasi tinggi untuk ini. Setelah itu tidak ada event-event yang membuat semua warga Karawang jadi terpusat menjadi satu. Hanya ada acara-acara memorial biasa. Faktor berikutnya tidak adanya gedung kesenian yang khusus dirancang untuk kegiatan musik dan kesenian lainnya, mungkin kita punya Kampung Budaya namum belum berjalan dengan maksimal. Selama ini kalangan pelaku musik lebih memanfaatkan fasilitas-fasilitas swasta yang berada di Karawang, sebut saja Area Parkir Festive Walk, Lobi Depan Mall KCP, Koridor Tecnhno Mart dan beberapa Cafe - Cafe yang akhir-akhir ini banyak bermunculan. Beberapa tahun lalu mungkin kalangan Indipenden memilih Gedung KNPI atau Aula Disbudpar untuk melampiaskan hasyat mereka berkesenian. berjalannya waktu kedua gedung ini sudah jarang dilirik karena kurangnya fasilitas.
Semasa gue bekerja di jalanan dulu, banyak sekali bakat-bakat yang tersimpan dari sekitar Karawang kota sampai pelosok-pelosok yang pernah saya temui. Bakat-bakat terpendam ini seperti tidak tau arah dan tujuan kemana melampiaskan bakat mereka. Alangkah indahnya bukan jika Karawang memiliki gedung serba guna milik Pemerintah yang khusus dibangun untuk mengekpos bakat dan keterampilan mereka. Rutin mengadakan acara reguler tiap dua minggu atau sebulan sekali khusus menampilkan putra-putri Karawang.
Kegiatan seperti ini bisa terlaksana dengan kolaborasi antara orang-orang yang mewakili Pemerintah dan orang-orang yang mewakili remaja kreatif, dengan cara membagi tugas. Menyiapkan fasilitas (Orang-orang pemerintah) dan mencari bakat-bakat untuk ditampilkan ( orang-orang kreatif ). Kita bisa mengambil contoh dari Komplek Taman Ismail Marzuki ( TIM ) dan Dewan Kesenian Jakarta, pepaduan antara pihak pemerintah dan remaja-remaja kreatif ini sukses membuahkan hasil menjadikan Tim sebagai pusat kesenian baik itu Seni Musik, Seni Tari, Seni Teater, Seni Visual, Seni Komedi sampai Seni Literasi di dalam satu pusat.
Mungkin kita masih tertolong dengan adanya Das Kopi yang rutin mengadakan acara baik itu musik atau diskusi yang memberikan angin segar bagi para penikmatnya serta ditambah komunitas-komunitas seni yang masih mengadakan event seperti ID Karawang, IBF Karawang atau LOG Karawang adan beberapa fans-fans club gabungan yang melakukan kegiatan Tribute untuk band idola mereka. Kita juga bisa mengambil contoh dari dua komunitas seni di Karawang yakni Perpustakaan Jalanan Karawang dan Stand up Comedi Karawang yang rutin melalukan kegiatan-kegiatan ringan untuk memajukan bidang yang mereka usung masing-masing. Perpustakaan Jalanan dengan semangat literasinya dan Stand up Comedi dengan minat melucunya. Lapangan KarangPawitan dan Limasan Cafe mungkin bisa disebut saksi bisu kegiatan rutin dua komunitas ini.
Semoga opini ini bisa sampai kepada Teh Celli dan Kang Jimi serta para anggota dewan DPRD yang terhormat. bukankah Presiden Joko Widodo membangun Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) untuk memajukan perekonomian melalui jalur kesenian. Jakarta, Bandung, Yogjakarta, Malang, Medan sudah membuktikan. Memang, mayoritas remaja Karawang mengharapkan bekerja di suatu pabrik dengan gaji yang besar, Tapi menjadikan bisnis musik sebagai sampingan juga bukan suatu hal yang salah. apalagi bisa untuk melatih keterampilan sedari dini untuk remaja yang masih duduk dibangku sekolah.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar